hariharibersamasikecil

Setiap hari menorehkan kesan mendalam di hati

Pentingnya popok berenang

Suatu hari si kecil bermain-main di kolam cetek salah satu hotel ternama di Jakarta. Si kecil hanya menggunakan celana berenang tanpa popok. Tiba-tiba saya menyadari gelagat aneh si kecil yang jongkok di tepian. Walaahhhh!! Benar saja gak lama kemudian muncul bulatan-bulatan coklat mengapung di permukaan air kolam. Refleks saya langsung mengumpulkan pup dan menaruh di plastik kosong. Untung saat itu tidak ada pengunjung lain.

Oalaahh…rupanya ini toh kegunaan popok berenang. Popok berenang/ swimming nappy masih kurang familiar di telinga kita, padahal sudah banyak dijual di toko-toko bayi. Sejauh ini saya hanya mengenal merk huggies.

image

Popok berenang VS popok biasa

Beda antara popok biasa dan popok berenang saat terlihat dari foto ini. Popok biasa menyerap air semaksimal mungkin sehingga makin lama jadi berat dan merosot. Sedangkan popok berenang menyerap air secara terbatas dan lebih ketat sehingga mencegah pup keluar dari popok.

Popok berenang juga tersedia yang dapat dipakai ulang. Jadi semacam celana berenang yang ketat. Jauh lebih hemat, apalagi untuk anak yang sering berenang. Kalau mau lebih hemat lagi, segera ajarkan pipis/pupup di toilet sampai anak bebas popok.

Leave a comment »

Langkah manjur toilet training

Setelah berbulan-bulan berkutat dengan niat men-toilet training si kecil, akhirnya niat itu bulat juga. Kebulatan tekad ini dipicu oleh diskriminasi sebagian hotel di Bali yang memisahkan tempat main untuk anak yang masih dan sudah tidak memakai popok. Aneka permainan menyenangkan mulai dari ayunan hingga mencari yuyu di pantai hanya diperuntukkan untuk anak yang sudah bebas popok.

Membaca dari berbagai sumber dan berbagi pengalaman dengan ibu-ibu lain, akhirnya saya menemukan pola toilet training untuk si kecil dan sekarang si kecil sudah 99% bebas popok.

Berikut saya berbagi tips untuk para ibu yang masih bertanya-tanya.

Yang utama dari toilet training ada kebulatan tekad dari orang tua dan pengasuh karena si kecil sangat mudah beradaptasi. Tentunya si kecil juga harus sudah menunjukkan minatnya untuk toilet training. Tidak ada batasan mutlak mengenai umur berapa toilet training harus mulai dijalankan. Tidak usah terburu-buru karena si kecil akan bisa pada waktunya.

Beberapa tanda bahwa si kecil siap untuk toilet training adalah:
– Sudah mulai tertarik melihat aktivitas yang dilakukan orang dewasa di toilet. Si kecil selalu memaksa untuk menekan gagang flush saat saya atau suami menggunakan toilet.
– Bagi yang sudah bisa berbicara, biasanya si kecil sudah bisa mengatakan “pi-pi” atau “pu-pu” atau istilah lain yang diartikan sebagai buang air kecil atau besar (BAK/BAB).
– Si kecil menunjukkan gelagat-gelagat khusus saat ia mulai tidak nyaman karena ingin ke toilet. Misalnya ia menyendiri di pojokan, jongkok untuk waktu lama, atau enggan duduk karena celana mulai basah. Sebagai orang tua, penting bagi kita untuk mengenali tanda-tanda ini agar kita bisa dengan cepat membawa si kecil ke toilet.

image

Beberapa “peralatan perang” yang saya persiapkan adalah:
Toilet training chart dan satu ember penuh cemilan favorit. Jadi setiap kali si kecil berhasil melakukan suatu tindakan yang berhubungan dengan aktivitas di toilet, ia akan mendapat 1 buah stiker dan boleh memilih 1 buah cemilan.

Urinoar kecil yang dapat ditempel di dinding kamar mandi. Urinoar ini membantu anak laki-laki untuk belajar BAK sendiri. Si kecil pun merasa benda ini seru sekali. Ia akan belajar mengarahkan penisnya dengan tepat agar tidak berceceran.

Pispot yang mudah dibawa kemana-mana. Penting untuk BAK di dalam perjalanan. Kadang toilet umum yang kotor membuat si kecil enggan BAK di toilet….saat seperti ini, pispot sangat berguna. (baca ulasan: pernak-pernik toilet training)

Booster seat untuk BAB. Pilih gambar yang menarik hati si kecil agar ia duduk dengan semangat.

Dingklik untuk naik ke toilet. Setelah menggunakan untuk beberapa lama, akhirnya saya memilih untuk tidak menggunakan dingklik. Si kecil saya biasakan untuk langsung didudukan atau memanjat toilet sendiri. Bila ingin menggunakan dingklik, carilah dingklik yang dapat berdiri dengan mantap di lantai dan tidak licin.

Training pants. Celana dalam yang dibuat khusus untuk si kecil yang sedang berlatih BAB/BAK. Bahannya lebih tebal sehingga bila BAK tidak langsung membasahi celana panjang/menetes ke lantai, namun cukup dapat membuat si kecil tidak nyaman karena basah.

Celana dalam motif. Meningkatkan semangat si kecil untuk segera menggunakan celana dalam biasa dengan motif karakter favoritnya.

Celana panjang dan celana pendek lusinan berbahan katun. Penting karena kecelakaan sering terjadi.

Kantong plastik bekas untuk membungkus celana basah (wet bag). Penting ditaruh di tas karena kecelakaan dapat terjadi setiap saat. Efektif juga untuk mengantongi segepok tisu bekas mengelap (maaf) air seni yang membasahi lantai toko.
Film dan aneka permainan di gadget yang mengajarkan tentang toilet training. Saya menggunakan film seri Elmo. Permainan saya menunduh seadanya dari Google playstore, coba satu per satu yang dirasa cocok. Film dan permainan sangat membantu menurut saya, sangat edukatif.

 

Yak! Ketika semua peralatan siap, mari kita mulai toilet training. Sebaiknya siapkan 2-3 hari yang dihabiskan di rumah saja agar kita bisa melihat pola BAK si kecil. Untuk bapak ibu bekerja, bisa pilih hari Sabtu dan Minggu. Biarkan si kecil hanya menggunakan training pants atau celana dalam biasa dan celana katun. Beritahu bahwa setiap saat ingin pi-pi atau pu-pu bisa memberi kode atau lari ke toilet. Usahakan agar pintu menuju toilet tidak tertutup agar dapat diakses setiap saat.

Awalnya pasti banyak terjadi kecelakaan, namun biasanya berlangsung hanya 1-2 hari. Setelah itu si kecil akan jauh lebih terbiasa. Sengaja digunakan training pants atau celana dalam agar si kecil merasa tidak nyaman. Biasanya di hari ke-2 atau ke-3, si kecil akan sudah lebih pandai. Ada yang menyebut ini sebagai 3 days rules.

Yang harus dicatat saat latihan di dalam rumah adalah pola BAK si kecil…artinya setiap berapa jam si kecil BAK. Hal ini berguna agar kita tau saat yang tepat mengajak si kecil ke toilet. Pada awalnya saya langsung mengajak si kecil pakai celana dalam berjalan-jalan di luar rumah seharian dan menerapkan teori kalau anak kecil BAK setiap 2-3 jam. Saya ajak ke toilet setiap 2-3 jam, yang ada hanyalah pertengkaran di dalam bilik toilet. Setelah seharian di rumah, saya memperhatikan bahwa pola BAK si kecil setiap 4-5 jam. Memang ada untungnya juga dianugerahi kandung kemih berkapasitas besar…si kecil gak pernah bermasalah untuk menggunakan celana dalam di malam hari. Asalkan persis sebelum tidur dan sesudah bangun pagi BAK di toilet.

Toilet training di malam hari memiliki seni tersendiri. Pada awalnya saya tetap menggunakan popok dan mengamati apakah popok kering/basah di pagi hari. Setelah hampir 1 minggu popok si kecil kering di pagi hari, kami memberanikan diri untuk memakaikan training pants di malam hari. Tetap saya melindungi kasur dengan mattrass protector dan perlak. Saya sempat berpikir untuk membeli sprei berbahan plastik, namun karena belum sempat membeli….eeeh ehh si kecil sudah terlanjur lancar toilet training. Ada yang menganut aliran untuk membangunkan si kecil di malam hari, membawa ke toilet dan dibiasakan untuk BAK di sela jam tidur malam. Saya menganut yang membiasakan anak untuk tidur panjang di malam hari karena pada dasarnya saya juga malas bangun tengah malam hehehe… Namun sekali lagiĀ toilet trainingĀ ini sebuah seni hasil karya paduan orang tua dan anak.

Saat ini si kecil sudah “bebas” popok selama 2 bulan dan baru 1x ngompol di kasur. Lumayan… Si kecil masih sesekali menggunakan popok bila berpergian jarak jauh atau bila tertidur malam tanpa BAK terlebih dahulu.

Toilet training adalah kewajiban, namun bukan sesuatu yang perlu dipaksakan.

Selamat berlatih!!

Leave a comment »

Pernak-pernik toilet training

Memasuki tahun ke-2, waktunya latihan buang air kecil (BAK) di toilet atau yang lebih dikenal dengan toilet training. Toilet training membutuhkan kerjasama antara si kecil, orang tua, pengasuh, dan orang dewasa yang berada disekitar si kecil. Selain itu tentunya membutuhkan niat yang kuat karena pastinya ada tambahan pekerjaan untuk kita, misalnya bawa anak ke toilet setiap beberapa jam, mengurus sprei yang kena ompol, dsb.

Saat ini saya sendiri masih mengumpulkan niat sembari mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai toilet training. Saya menemukan 2 alat bantu yang cukup menarik, yakni portable urinal untuk BAK gawat darurat dan urinal plastik dengan suction untuk direkatkan ke dinding kamar mandi.

image

Kalau ada yang mau berbagi info mengenai toilet training, monggo loh…

2 Comments »