hariharibersamasikecil

Setiap hari menorehkan kesan mendalam di hati

Terapi anak telat bicara: kapan harus dilakukan

Kalau bicara mengenai anak telat bicara, pasti ada 1001 pendapat baik positif maupun negatif…

Ah bapaknya juga baru bicara umur 5 tahun.

atau

Tiap anak kan beda-beda. Tunggu ajaa nanti juga bicara.

atau

Anak yang jalan duluan, bicara belakangan.

Boleh saja orang sekitar berkicau, namun perlu diingat bahwa kita memiliki kurva tumbuh kembang anak (milestone), termasuk di dalamnya kemampuan berbicara. Kurva ini kan gak dibuat sembarangan, sudah ditelaah dan dikaji oleh para ahli di seluruh dunia, jadi pasti bisa dijadikan patokan. Sesuaikan saja umur anak dengan milestone tersebut, kalau ada yang kelewatan, saya rasa kita sebagai orang tua boleh merasa cemas dan konsultasi ke dokter spesialis anak atau spesialis rehabilitasi medik atau terapis.

 

Di Negara Indonesia tercinta ini, membawa anak terapi masih dipandang sebagai sesuatu yang aneh…anak dianggap penyakitan, bahkan dianggap sakit mental. Padahal enggak loh…terapi kan banyaakkk… ada terapi sensori integrasi (untuk membenarkan fungsi-fungsi dasar anak), ada terapi bicara, terapi perilaku, dan lain-lain.

Apalagi di era gadget…dimana anak kecil selalu sibuk dengan gadget atau TV yang memancarkan gelombang radiasi elektromagnetik yang tinggi. Anak jadi sibuk sendiri, sibuk berkomunikasi (SATU ARAH) dengan teman virtualnya, yang tentunya akan membuat si anak kehilangan kemampuan berkomunikasi.

Yaaa gimana ya??? Paparan gadget begitu besar, tapi anak dibawa terapi dianggap sebagai sesuatu yang aneh… yang pasti moms harus siap kalau bawa anak ke terapis, pasti disuruh stop gadget, stop TV, dan disarankan untuk membawa anak bermain di alam bebas hehehhe…


Singkat cerita pengalaman saya…

Anak saya laki-laki usia 18 bulan belum bisa bicara. Masih babbling, baby talks…ngomong mommy, daddy belum bisa. Semestinya di usia tersebut minimal sudah bisa menyebutkan 2 kata dengan jelas.

Sebagai orang tua, kita cemas dong dan saya rasa itu wajar. Apalagi bayi ini punya kakak yang super bawel dan dikelilingi oleh banyak orang….rangsangan bicara kan banyak sekali. Apalagi saya sudah membatasi gadget dan TV.

Tapi memang…kendala 2 bahasa itu ada…karena hidup di lingkungan berbahasa Indonesia, namun sekolah di sekolah berbahasa Inggris.

Langkah pertama….stop sekolah berbahasa Inggris…ini juga langkah yang berat karena guru dan orang tua lain bilang “sayangg” “anaknya pinter begitu” “he is my little assistant”. Ya sik emang lincah dan sigap…tapi BISU… OK mantapkan hati…tanda tangan surat pengunduran diri.

Langkah kedua….jadwal sekolah anak diganti dengan jadwal ajak jalan ke taman, aktivitas fisik di rockstargym. Siapkan setumpuk mainan dan buku yang bagus untuk melatih sensori.

Langkah ketiga….konsultasi dengan dokter spesialis anak dan spesialis rehab medik. Lalu mulai deh terapi…

Enam kali terapi…kata-kata mulai bermunculan. Tapi masih sesekali, reflex…dan belum kombinasi 2 kata. Tapi lumayan banget loh…orang-orang dekat juga melihat banyak perubahan yang dialami si bayi. Jadi jauh lebih tenang, lebih fokus, dan kata-kata mulai keluar. Yaa…perjalanan masih panjang dan komentar negatif terus berdatangan. Tapi gak usah dipeduliin…

Anak itu tanggung jawab kita sebagai orang tua untuk memberikan yang terbaik, untuk memastikan tumbuh kembangnya berjalan dengan normal. Dan perlu diingat bahwa otak anak terus berkembang, gak bisa nungguin sampai mamanya punya waktu untuk nemenin main, gak bisa nungguin sampai si anak sampai umur 5 tahun. Yang paling bener ya diintervensi sedini mungkin, daripada menyesal belakangan.

Advertisements
Leave a comment »