hariharibersamasikecil

Setiap hari menorehkan kesan mendalam di hati

Pompa elektrik VS pompa manual VS perah manual

on 19 August 2015

Kali ini saya mau berbagi mengenai perbandingan antara memompa payudara dengan pompa elektrik, pompa manual, dan perah manual dengan tangan.

Biasanya saat menginjak usia kehamilan 7 bulan, calon ibu akan mulai kebingungan mencari pompa yang tepat. Saran saya yang pertama adalah:

Jangan beli peralatan pompa-memompa dan atribut menyusui terlalu kalap saat hamil karena belum tentu ASI keluar dan menyusui berjalan lancar. Selain karena mahal, sayang juga barang udah dibeli gak terpakai.

Apalagi untuk pompa elektrik yang harganya mahal. Saat hamil pertama saya meminjam pompa elektrik punya teman. Saat saya yakin ASI saya keluar dan lumayan, saya baru berani membeli pompa elektrik sendiri….dan dilanjutkan dengan membeli tutupan menyusui, aneka baju menyusui, kantong ASI, dan breast pads. Untuk anak pertama saya menggunakan Medela swing dan Medela freestyle selama 1 tahun.

Medela freestyle daya hisapnya sangat tinggi dan dapat memompa 2 payudara sekaligus, sedangkan Medela swing agak lemah dan hanya dapat memompa 1 payudara. Namun kekurangan dari freestyle adalah pemasangan perangkat yang cukup rumit, apalagi bila digunakan kanan dan kiri. Harganya pun jauh lebih mahal daripada swing. Keuntungan swing adalah perangkat pompa yang kecil dan mudah dibawa kemana-kemana, namun masa hidupnya tidak lama. Saya dan beberapa teman mengalami keluhan serupa, yaitu setelah digunakan terus selama beberapa bulan, kemampuan hisap swing berkurang dan tidak ada yang dapat dilakukan oleh Medela service center

image

Philips avent manual breast pump (atas), Ameda electric breast pump (bawah)

Untuk anak kedua, saya mendapat hadiah pompa Ameda electric breast pump dari Amerika. Namun mungkin karena anak kedua yaaa…saya sudah terlalu malas dengan peralatan yang banyak dan jelimet. Daya hisapnya pun tidak terlalu kuat. Jadilah saya membeli Philips avent manual breast pump. Awalnya direkomendasikan oleh teman saya dan sempat dipinjamkan oleh RS Bunda. Woooww!! Ternyata daya hisapnya sungguh luar biasa. Dalam 5 menit saya bisa mendapatkan 120 cc susu. Oya, gak semua merk pompa manual memiliki daya hisap yang sama loh ya. Teman saya mencoba merk dr.Brown ternyata daya hisapnya sangat lemah dan bikin puting sakit.

Dan ternyata lagi…saya sudah terlalu malas membawa pompa kemana-mana, bahkan Philips avent yang sangat praktis. Jadilah saya membiasakan diri untuk memerah dengan tangan. Wah ternyata paling praktis merah dengan tangan, hanya bermodalkan botol susu kosong dan tangan. Memang untuk mendapatkan 120 cc susu diperlukan waktu lebih lama sekitar 15 menit.

Dari pengalaman di atas, dapat saya simpulkan demikian

Pompa elektrik
Paling mahal, pemasangan alatnya paling ribet, kurang praktis, daya hisapnya relatif kencang (tergantung merk dan tipenya juga), perlu batere/ colokan listrik, namun tangan tidak pegal.

Pompa manual
Harga lebih murah, pemasangan alat gak terlalu ribet, lumayan praktis, daya hisapnya relatif kencang (tergantung merk dan tipenya juga), gak perlu batere/ colokan listrik, tangan lumayan pegal.

Perah manual
Hanya bermodalkan botol susu dan tangan, sangat praktis, dengan pola pemijatan yang benar ASI akan keluar lancar dalam waktu cepat. Puting gak ‘ketarik’ seperti pada pompa elektrik dan manual. Yang pasti tangan lebih pegal daripada pompa manual.

Silahkan dipilih mana yang lebih sesuai dengan buibu sekalian.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: