hariharibersamasikecil

Setiap hari menorehkan kesan mendalam di hati

“Memaksa” si kecil bicara

on 4 January 2014

Si kecil sudah berusia 2 tahun, namun masih belum bisa bicara??

Hal ini terjadi pada anak saya. Lumayan panik pada awalnya. Namun merasa lebih tenang karena melihat bahwa si kecil sangat paham omongan orang dewasa, bisa menuruti perintah, dan dapat menunjuk objek dengan tepat.

Berpikir, mencari informasi, konsultasi mengapa anak terlambat bicara dan bagaimana cara mengatasinya… Berikut beberapa tips yang sukses diterapkan pada anak saya:

Kebingungan bahasa
Ada yang mengatakan bahwa daya tangkap anak-anak terhadap bahasa sangat tinggi, sehingga mampu menangkap beberapa bahasa sekaligus. Namun ada juga yang mengatakan bahwa pengenalan lebih dari satu bahasa pada satu waktu dapat menimbulkan kebingungan. Contohnya saat si kecil melihat nasi, ia bingung antara rice atau nasi karena kerap kali ia mendengar dua kata itu diucapkan.

Anak saya tumbuh dalam dua bahasa, yakni Indonesia dan Inggris. Akhinya kami memutuskan untuk menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa utama.

Pengulangan nama objek
Tunjuklah satu objek, lalu sebut namanya berulang kali. Ajarkan si kecil untuk menyebutkan potongan terakhir dari suatu kata, misalnya ma-“mam”, bi-“ru”, ke-“ju”, o-“pa”. Bila si kecil sudah fasih menyebutkan bagian terakhir saja, tingkatkan kesulitan dengan mengajarkan si kecil menyebutkan bagian pertama juga sehingga dapat terbentuk satu kata utuh.

Hindari penggunaan bahasa bayi
Seorang ahli bahasa mengatakan bahwa orang dewasa sebaiknya tetap menggunakan kata-kata yang benar saat berkomunikasi dengan anak kecil. Saat ini si kecil sedang belajar cara berbicara yang benar dari kita, jangan malah kita yang terlalu asik berkomunikasi dengan bahasa bayi atau malah dengan bahasa tubuh. Misalnya kita melatih si kecil menyebut “makan”, yang keluar pasti “mamam” karena lebih mudah diucapkan. Namun ada baiknya setiap kali si kecil menyebut “mamam”, kita tanggapi dengan “iya ayo kita makan sekarang”.

Jangan terlalu tanggap terhadap bahasa tubuh
Si kecil seringkali menjadi ahli tunjuk. Tunjuk nasi, lalu tunjuk mulut = mau makan. Tunjuk bokong = popok basah. Tunjuk TV = mau nonton TV. Orang dewasa yang terlalu tanggap terhadap tunjukan atau bahasa tubuh lain, kurang melatih si kecil untuk bicara. Buat apa bicara, toh dengan sebuah jari telunjuk, seluruh keinginan terpenuhi.

Saatnya untuk memaksa si kecil bicara. Jangan lupa bahwa tips ini hanya berlaku untuk si kecil yang sudah mengeluarkan satu atau dua patah kata sederhana yang bermakna. Jadi kita sungguh yakin bahwa tidak ada gangguan mendengar, berpikir, dan bicara pada si kecil.

Kata pertama yang lengkap diucapkan anak saya adalah “buka”. Maklumlah ia suka sekali makan-minum, jadi sangat sering meminta dibukakan sesuatu. Diawali dengan hanya menyebutkan “ka” yang berarti “buka”, akhirnya dapat menyebutkan 1 kata penuh walau dengan sedikit pemaksaan.

Ajarkan untuk mengucapkan 1 kalimat utuh
Kalau sudah lebih banyak perbendaharaan kata, pandu si kecil mengucapkan satu kalimat utuh dengan subjek, predikat, dan objek. Misalnya “daddy + aku + minta + yakult + plis”. Mudah diterapkan untuk objek yang sangat ia gemari.

Partisipasi orang sekitar
Ajak orang sekitar yang sering berinteraksi dengan si kecil untuk sama-sama menerapkan hal-hal di atas.

Jangan terlalu memaksa si kecil
Kadang si kecil dapat frustrasi untuk menyebutkan sesuatu. Kenalilah kondisi si kecil. Kalau memang ia terlihat sudah sangat berusaha namun belum berhasil, kabulkanlah apa yang ia minta.

Si kecil dengan gengsi besar
Suatu hari si kecil mendatangi saya sambil membawa HP dan galaxy tab saya. Lalu ia memberikan HP sambil berkata “nih”, kemudian memberikan galaxy tab sambil berkata “nih berat”. Sejak saat itulah saya yakin bahwa si kecil sebenarnya sudah bisa bicara. Namun semakin disuruh bicara, ia semakin tidak mau bicara. Banyak kata meluncur dari mulutnya saat tidak ia sadari (refleks).

Memang si kecil ini memiliki gengsi setinggi langit. Ia menyusun lego bila tidak ada yang melihat, kalau ada yang lihat, lego akan dia hancurkan. Akhirnya saya menyusun strategi terakhir yakni berhenti merayu si kecil untuk bicara, bahwa melarang ia bicara. Yaa…coba-coba teknik reverse pshychology. Dalam 1 minggu terakhir saya sering berucap, “Wah kayaknya kamu tuh bawel kalau udah bisa bicara, mending diem terus begini aja deh”. Akibatnya adalah si kecil mengalami perkembangan bicara yang luar biasa cepatnya. Semakin dilarang bicara, malah semakin banyak omong.

Selamat mencoba, semoga berhasil.

Jangan lupa konsultasi ke dokter bila Anda merasa perlu atau cemas. Dokter anak akan dapat membantu menilai normal/tidaknya kemampuan bicara si kecil dan dapat memberikan tips yang berguna. Bila perlu dapat dilakukan penilaian kelainan fungsi mendengar/bicara, serta terapi bicara.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: