hariharibersamasikecil

Setiap hari menorehkan kesan mendalam di hati

Perjalanan ke Kuala Lumpur 5: santai

on 12 July 2013

Melangkah keluar dari hotel, langsung menuju taksi sewaan…menyenangkan sekali rasanya setelah berpetualang selama 2 hari. Seluruh koper masuk dalam bagasi, siap berkeliling Kuala Kumpur dan sekitarnya untuk kemudian langsung menuju ke airport.

image

Tujuan pertama ke The King’s Palace, yang merupakan tempat tinggal sultan, lalu menuju ke Batu Cave yang berjarak 13 km dari KL. Batu Cave merupakan kawasan beribadah bagi umat beragama Hindu. Terdapat 3 buah goa raksasa dengan patung Murugan, dewa agama Hindu, tertinggi di dunia (42,7 m) yang menjulang tinggi di depan goa.

image

Kami melanjutkan perjalanan ke Genting sambil tidur nyenyak di dalam taksi. Saat membuka mata, plang Restoran Tee Huat (Klang Bakut Teh) di depan mata. Pas banget perut keroncongan belum makan pagi. Makan di restoran ini memiliki keunikan tersendiri…di sudut-sudut tersedia teko berisi air panas untuk mencuci cangkir teh dan menyeduh teh. Saya sempat mengalami kendala saat memesan makanan…maklumlah pelayannya hanya bisa berbahasa Cina dan sedikit bahasa Inggris. Saya hanya bisa menyebut “Bakut teh one, small…small” maksudnya minta bakut teh porsi kecil. Ditanya “rice?” “yes, 1 please”. “Cakwe?” “yes” padahal bingung juga kok bakut teh pakai cakwe? Waktu ditanya “vegetables?” bingung saya…akhirnya saya jawab “no”. Setelah melirik meja sebelah yang dipenuhi oleh opa-oma yang begitu duduk langsung membelah duren dan memesan bakut teh semangkok besar…akhirnya saya paham. Rupanya bakut teh biasa dimakan dengan nasi, sepiring sayur, dan cakwe. Sayurnya bisa berupa toge atau beraneka macam sayur hijau. Yang penting pesanan saya keluar sesuai dengan yang saya inginkan. Bakut teh nya enak sekali, aroma babinya tidak terlalu tercium ditambah dengan cakwe yang sangat renyah.

image

Kami melanjutkan perjalanan menuju Genting Highlands…hanya ada waktu 30 menit untuk melihat-lihat kawasan wisata yang sangat besar ini. Maklumlah ini hanya tur sekilas…untuk merencanakan kunjungan berikutnya bersama si kecil. Di Genting dingin sekali….hawanya enak. Ada 2 kawasan bermain, di luar ruangan dan dalam ruangan, casino, dan pusat perbelanjaan yang lumayan besar. Namun sangat disayangkan Genting  Highland terkesan tua, kuno, kotor, dan kumuh.

image

Saatnya kembali ke kota…mampir ke Beryl’s chocolate factory lagi untuk menikmati duren dan nangka madu yang dijual di lapangan parkirnya. Dijual seharga RM 20-25 per paket, cukup untuk memuaskan keinginan makan duren Malaysia dan nangka madu yang warna kuningnya sudah menarik hati sejak di pasat Chow Kit. Penjual menyediakan sarung tangan plastik untuk memakan buah agar tangan tidak bau. Sangat praktis. Setelah itu, pak supir membawa kami ke toko yang menjual tas kulit yang ternyata merupakan kamuflase penjualan obat herbal. Walaupun kesal karena merasa membuang-buang waktu, saya senang karena akhirnya saya pernah melihat dan mencicipi minuman herbal khas Malaysia yang terkenal yakni Tongkat Ali. Tongkat Ali diakui sebagai suplemen untuk stamina pria dan konon dikenal untuk rejuvenasi daerah kemaluan pada wanita. Namun perlu diingat bahwa khasiat obat herbal sulit dibuktikan secara empiris.

Tujuan berikutnya adalah ke toko Coffee Town yang menjual berbagai variasi white coffee yang merupakan ciri khas dari kopi Malaysia. Mereka menjual white coffee original, rendah lemak, rasa hazelnut, durian, dan tongkat ali. Rasa kopi duriannya unik, dapat dijadikan buah tangan bagi pencinta kopi di Indonesia. Ternyata yang dimaksud dengan white coffee bukannya menggunakan biji kopi berwarna putih, namun proses pengolahan bijinya yang menggunakan suhu lebih rendah dan dalam waktu lebih lama. Biji tetap berwarna hitam, namun rasa kopinya tidak sekuat kopi biasa dan kurang nikmat bila tidak dikonsumsi dengan susu. Saya rasa itulah alasan mengapa white coffee selalu disajikan dicampur dengan susu.

Kami menghabiskan sisa waktu kami di toko H&M, Bukit Bintang, karena lagi diskon besar-besaran. Pukul 5.30, pak supir menjemput kami di depan Texas Fried Chicken. Karena menunggu cukup lama, akhirnya kami memesan paket anak-anak. Mengejutkan bahwa ayam Texas lebih enak daripada ayam KFC, apalagi minumannya bisa isi ulang terus-menerus. Dalam perjalanan ke airport, kami mampir ke kawasan Putrajaya, pusat pemerintahan Malaysia. Bangunan-bangunannya sangat unik dan futuristik sehingga menjadi daya tarik sendiri bagi para wisatawan. Setibanya di airport, kami mengucapkan selama berpisah pada pak supir yang murah hati. Seperti biasa pesawat kami terlambat lagi….untung ada kartu priority pass sehingga kami dapat menunggu dengan nyaman, ditemani oleh nasi kendar, nasi khas India, yang dibelikan oleh pak supir saat kami belanja di H&M.

Biaya tur sehari memakan biaya RM 350, sudah termasuk ongkos bensin dan biaya tol. Tidak semua supir taksi memiliki ijin untuk menjadi pemandu wisata…supir saya menggantung ijinnya di kaca spion tengah dan di kantong belakang kursi terdapat foto-foto tujuan wisata. Walaupun bayar borongan, pak supir tetap memasang argo karena argo merupakan kewajiban bagi taksi disana. Bila tertangkap polisi tanpa argo, bisa kena denda. Saat tiba di airport, argo menunjukkan RM 500. Meskipun demikian, masih ada beberapa taksi yang nekad tidak mau pakai argo, terutama saat jalanan lagi sangat macet atau sudah tengah malam.

Bapak Ravi (supir)
Email: sridisaitours@rocketmail.com
Telp: +60 14 6437 527


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: