hariharibersamasikecil

Setiap hari menorehkan kesan mendalam di hati

100 menit bersama si kecil (di dalam pesawat)

on 17 November 2012

“Pesawat tujuan Denpasar mengalami keterlambatan selama 45-60 menit dari sekarang”… Lemah lunglai diriku mendengarnya… Baru saja si kecil tertidur dengan manisnya di dalam Manduca. Hitung-hitung perjalanan menuju Denpasar memakan waktu 100 menit…yah sesuai dengan jam bobo sore si kecil. Maklum…kali ini saya pergi hanya berdua saja. Berhari-hari saya memikirkan apa yang harus dibawa, pemilihan tas, dsb dsb agar perjalanan menjadi lebih praktis. Ternyata kekhawatiwaran saya sungguh terjadi…si kecil terbangun persis saat waktu masuk pesawat. Kepasrahan diiringi doa menemani saya selama 100 menit ke depan…100 menit terpanjang dalam hidup saya… Prinsip yang saya pegang adalah “Yang penting sampai ke tujuan dengan selamat”

Disini saya ingin berbagi tips & trik membawa terbang si kecil balita yang sudah bisa berjalan. Maklum…bukan saja menuju Denpasar, perjalanan pulangnya pun si kecil tidak tidur sepanjang jalan.

  1. Minta kursi di sisi jalan dan dekat dengan toilet. Hal ini akan mempermudah Anda bila si kecil harus ganti popok atau hanya sekedar ingin jalan-jalan.
  2. Saat masuk pesawat dan sampai ke kursi, segera umumkan ke penumpang di sekitar bahwa Anda membawa anak kecil dan mohon maaf kalau akan mengganggu. Terbukti mereka yang maklum akan membantu disaat kita kesulitan (biarkan mereka yang tidak maklum minta tuker kursi sebelum pesawat lepas landas). Penumpang di sebelah saya cuek bebek tuh waktu jus si kecil muncrat membasahi lengan dan kursinya…saat perjalanan pulang bahkan si opa tetangga bantu ngipasin si kecil yang kepanasan. Rasanya ini contoh orang-orang yang sudah maklum.
  3. Siapkan senjata dan amunisi di dalam tas tenteng yang dapat ditaruh di bawah kursi. Tas saya berisi changing mat + diaper + wipes, snack box, jus dalam sippy/straw cup, 1 buah mainan favorit yakni remote TV fisher price, tisu kering, plastik untuk tempat sampah, dan tas kecil saya yang berisi barang favorit si kecil (kartu kredit, USB, pocket camera, handphone). Kamera dan USB saya sudah jadi korban si kecil…dilempar sampai berbunyi nyaring dan menyebabkan orang-orang nengok semua.
  4. Benda lain yang sekiranya dapat menghibur si kecil adalah botol aqua, kartu keselamatan milik maskapai (disobek habis sama si kecil), life vest (karena ada pita merah sebagai segel…waspada denda kalau sampai sobek), buka tutup meja makan, memasang dan melepas sabuk pengaman bayi.
  5. Si kecil juga sangat senang memiliki daerah kekuasaan sendiri. Terbarkan kain, selimut, beserta barang-barang yang menarik hati si kecil di lantai. Biarkan ia asik sendiri selama beberapa menit. Saat si kecil asik sendiri, mendadak ia pupup besar sampai kotorannya mengenai lantai pesawat. Maklumlah si kecil sedang diare. Wah…dengan gaya tenang saya menggendong si kecil menuju ke toilet sambil membawa set ganti popok. Padahal itu pupup sudah tembus kemana-mana dan mengenai lengan saya yang menggendongnya.
  6. Sebelum mengeluarkan sedotan dari straw cup, saya sarankan untuk terlebih dahulu mengendurkan tutup ulirnya, keluarkan sedotan, lalu kencangkan lagi. Perubahan tekanan mendadak dalam waktu singkat menyebabkan tekanan dalam cup meningkat, sehingga bila tidak dikendurkan dahulu, isinya akan muncrat kemana-mana saat sedotan dikeluarkan.
  7. Jangan lupa kenakan sabuk pengaman bayi saat lepas landas dan mendarat. Bayi suka sekali melihat kilau kepala sabuk dan memainkan sabuknya yang bergelantungan. Beberapa maskapai memperbolehkan penggunaan baby carier daripada sabuk pengaman, bahkan ada maskapai yang tidak menyediakan sabuk pengaman bayi.
  8. Usahakan tidak membawa bagasi dan penjemput sudah siap saat kita mendarat.
  9. Cara menghilangkan sensasi budek/sulit mendengar saat lepas landas/mendarat: biarkan si kecil mengunyah atau meminum sesuatu, sibuk sendiri melakukan hal yang ia senangi atau si kecil dalam kondisi tidur
  10. Pasrah, pasrah, dan pasrah… Si kecil terbang dalam keadaan diare dan perutnya kurang enak. Semua makanan ditolak, banyak minum air putih…mendadak si kecil muntah dan membasahi seluruh celana saya. Disinilah pasrah dan tenang memegang kunci. Si kecil meronta-ronta minta aqua botol. Saat saya sedang berdiri untuk mengambil botol di laci atas, si kecil nangis meraung-raung guling-gulingan di lantai. Biarkan saja…angkat setelah botol sudah di tangan. Mau gimana lagi? Wong tangan cuma dua…

Selamat mencoba! Gak usah terlalu was-was…tanamkan dalam hati bahwa biasanya orang akan maklum bila seorang bayi atau anak kecil menangis. Gak kebayang leganya perasaan saya saat pesawat mendarat. Apa yang terjadi di pesawat, biarkanlah menetap di pesawat…yang penting sampai ke tujuan dengan selamat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: